GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Korban 'Digituin' Berakhir Kencanduan

Korban 'Digituin' Berakhir Kencanduan

PROKAL.co PROKAL NEWS PRO KALTIM KALTIM POSTBALIKPAPAN POSSAMARINDA POSBONTANG POSTBERAU POST PRO KALTARA RADAR TARAKANBULUNGAN POSTKALTARA POS …

Korban 'Digituin' Berakhir Kencanduan

  • PROKAL.co
    • PROKAL NEWS
    • PRO KALTIM
      • KALTIM POST
      • BALIKPAPAN POS
      • SAMARINDA POS
      • BONTANG POST
      • BERAU POST
    • PRO KALTARA
      • RADAR TARAKAN
      • BULUNGAN POST
      • KALTARA POS
    • PRO KALSEL
      • RADAR BANJARMASIN
    • PRO KALTENG
      • KALTENG POS
      • RADAR SAMPIT
    • PRO KALBAR
  • BalikpapanTV
  • SamarindaTV
  • KPFMBalikpapan
  • KPFMSamarinda
  • Indeks Berita
MANAGED BY: SELASA
09 JANUARI RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 08 Januari 2018 15:20 Korban ‘Digituin’ Berakhir Kencanduan

Secuil Kisah Gay di Kota Transit

ILUSTRASI/INT

PROKAL.CO, Lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) akhir-akhir ini sedang hangat diperbincangkan di Indonesia termasuk di Bumi Paguntaka.Kota Tarakan yang dikenal sebagai kota transit dengan luas wilayah kurang lebih 250,80 kilometer (km), ternyata banyak didiami kaum LGBT. Liputan khusus kali ini Radar Tarakan, secara khusus menyajikan wawancara dengan seorangpelaku yang mengaku memiliki orientasi seks yang berbeda dari seharusnya.

-------------------------------------

SEKS bebas nampaknya menjadi salah satu sisi gelap yang amat dekat dengan kaum LGBT. Terlebih lagi di zaman sekarang ini, di mana teknologi begitu berkembang pesat dan menciptakan sebuah aplikasi yang mempermudah bagi kaum LGBT. Sebut saja Grindr, Hornet, Blued dan lainnya. Kemunculan aplikasiâ€"aplikasi ini seakan membuka jalan yang lebih lebar bagi kaum LGBT untuk menyalurkan hasratnya.

Berdasarkan pantauan Radar Tarakan, pada media sosial (medsos) Facebook terdapat grup komunitas Tarakan Gay City. Di grup tersebut tercatat ada 793 anggota yang didominasi warga Tarakan, selebihnya berasal dari Berau, Tanjung Selor, Nunukan dan Malinau.

Untuk bisa menelusuri komunitas itu, tim mencoba untuk download salah satu aplikasi yang ada di telepon pintar tersebut yang membernya juga tergabung di grup Facebook itu. Aplikasi Hornet yang sangat populer di kalangan LGBT. Saat ini aplikasi itu menduduki rating 4.0 dengan unduhan sebesar 5 juta kali. Sebelum memulai aktivasi aplikasi ini, terlebih dahulu tim harus mengunggah biodata diri lengkap beserta foto. Untuk b isa mencari pengguna lainnya yang sesuai dengan jarak dan lokasi wilayah yang diinginkan.

Tim pun mencoba memasang sebuah foto pria tanpa wajah dengan kondisi naked (bugil). Lalu akun pada aplikasi Hornet seketika bisa digunakan. Selang beberapa menit kemudian, suara khas dari aplikasi Hornet pun berbunyi. Menandakan ada pesan masuk.

Benar saja, pesan tersebut berasal dari pengguna yang tak jauh dari posisi tim. Aplikasi ini juga bisa mengetahui lokasi sang pengirim pesan. Kembali pada pesan yang masuk tersebut, ternyata berasal dari seseorang yang berada di sebuah kafe yang berada di Jalan Yos Sudarso. Tak hanya satu pesan saja yang masuk, tetapi ada tujuh pesan pun turut bermunculan yang berasal dari berbagai lokasi di Bumi Paguntaka. Dari beberapa pesan yang masuk, rata-rata berisi sapaan “Hai.” atau bertanya “Posisi lagi di mana?.”

Kurang lebih 20 menit menggunakan aplikasi itu dengan menjawab satu persatu pertanyaan yang datang. Dari berba gai chat yang masuk, salah satu dari tujuh chat yang masuk berasal dari seseorang yang menggunakan foto publik figur di Tarakan. Namun tim tidak bisa membeberkan hal tersebut. Saat tim mencoba untuk bisa mengorek lebih dalam, pemilik akun itu, ternyata sudah tidak bisa dihubungi kembali.

Untuk diketahui, pada awalnya Hornet dan aplikasi lainnya ini, kabarnya hanyalah aplikasi khusus LGBT yang bertujuan untuk saling mengenal sesama pelaku. Akan tetapi tampaknya hal tersebut tidak berjalan sesuai rencana si pembuat aplikasi. Alihâ€"alih untuk saling mengenal, justru Hornet dijadikan tempat mencari kepuasan. Ibarat sebuah situs jual beli online, setiap akun di Hornet bebas memilih, ingin bercinta dengan siapa saja. Belum puas dengan yang satu, penggunanya bisa dengan bebas mencari yang lain lagi.

LGBT memang sudah dipandang negatif, yang memang harus menelan pil pahit kembali akibat prilaku mereka. Seks bebas, jual diri, kriminalitas dan lainnya seakan membuktikan bahwa kaum LGBT memang tidak patut diterima dalam lingkungan masyarakat. Jangankan LGBT yang tidak memiliki prestasi, bahkan terkadang LGBT yang memiliki segudang bakat dan prestasi pun sulit diterima dalam lingkungannya.

Keesokan harinya, tim kembali mencoba menggunakan aplikasi itu dan berhasil terhubung dengan seorang pria. Entah apakah ia menggunakan foto asli atau paslu. Tim langsung mengajaknya untuk bertemu Hampir setengah jam, tim masih menunggu balasan chat dari si lelaki tersebut. Seperti biasa, pertanyaan pembuka pun dimulai seperti nama, umur, dan alamat tempat tinggal.

Karena sangat tertutup. Mengingat Tarakan sangat kecil yang mudah untuk dikenal. Pria tersebut meminta untuk bertemu di salah satu hotel kelas melati yang berada di Jalan Jenderal Sudirman. Pertemuan dimulai sekira pukul 23.00 Wita, pada Kamis (4/1) saat itu.

Menggunakan pakaian serba rapi, dan aroma semerbak nan mewangi. Radar Tarakan membagi d ua tim. Tim pertama memesan sebuah kamar di hotel untuk sarana pertemuan dengan lelaki tersebut. Sementara tim lainnya menunggu di ruang tunggu untuk memantau kondisi sekitar hotel.

Berselang beberapa menit menunggu di kamar. Suara ketukan pintu pun terdengar dari luar. “Tok.. Tok..Tok…Tok...”. Tim pun menghampiri dan membuka pintu dan melihat seorang laki-laki berkulit sawo matang. Tingginya sekira 170 centimeter (cm) dan memiliki perawakan wajah bak artis-artis di Indonesia. Siapa sangka, pria kelahiran Balikpapan, Kalimantan Timur berumur 28 tahun silam itu merupakan seorang gay.

Ketika memasuki kamar, suasana hening sempat terjadi kala itu. Entah ingin memulai dari mana karena untuk pertama kalinya bertemu. Hingga pada akhirnya, tim memberanikan diri untuk memberitahukan tujuan sebenarnya saat bertemu. Lelaki itu sempat menolak, marah dan tidak terima. Seketika tim mencoba untuk menjelaskan secara rinci dengan memberikan hak privasi untuk berbicara. Ia pun a khirnya luluh dan mencoba untuk mulai berkomunikasi.

"Saya di antara terbuka dan tidak Mas," kata Leo nama samarannya. Dia bersedia tim wawancarai untuk menceritakan kehidupan sisi lainnya, yang tak diketahui banyak orang.

Dandanan Leo kala itu, memang tak terlihat layaknya seorang gay. Dia memelihara kumis dan berjambang. Badannya pun sama seperti lelaki normal kebanyakan. Namun di balik sikap maskulinnya, Leo mengakui jika dia adalah seorang gay. Apalagi ketika perbincangan mulai mencair. Lontaran khas bahasa kaum gay muncul. "Tapi saya bukan waria ya," katanya.

Bahkan, saat ditanya apakah keluarganya tahu apa yang diderita Leo. Ia menjawab dengan tegas bahwa ia tidak memperlihatkan penyimpangan itu, kepada keluarga besarnya. "Kalau di Keluarga saya belum siap. Tetapi teman-teman rata-rata sudah pada tahu saya gay," ungkapnya dengan malu-malu.

Menjadi seorang gay memang bukan pilihan jalan hidup bagi Leo. Namun dia tak kuasa melepas hasrat untuk menyukai sesama jenis. Diceritakannya, sejak lulus sekolah menengah atas (SMA), dia mengaku merasa lebih feminin (yang biasanya lekat dengan wanita) yang otomatis tidak memiliki hasrat saat berada dekat wanita . "Saya kalau liat wanita biasa aja. Tidak ada perasaan apapun," ujarnya.

Dia baru menyadari, dia sesama jenis ketika duduk di bangku kuliah di semester dua. Sejak saat itu Leo mulai memiliki ketertarikan dengan sesama lelaki. "Suka aja lihatnya. Apalagi kalau lelaki itu bisa memberikan kasih sayang," tuturnya.

Leo mengaku sempat menyebunyikan rasa sukanya terhadap lelaki itu dari teman-teman kampusnya. Dia takut jika suatu hari nanti, temannya bakal menjauhinya. Rahasia itu juga dia tutup rapat-rapat di depan keluarga besar. “Tuhan tak adil.” begitu kata Leo.

Sampai-sampai dia pernah membenci dirinya sendiri. Dalam hati kecilnya, menangis karena diciptakan dalam tubuh yang salah. "Awalnya saya n ormal dan suka dengan wanita. Namun, makin ke sini pribadi saya mulai berbeda," tutur Leo dengan lirih.

Leo mengungkapkan, adanya perubahan atas dirinya setelah ia mendapatkan perlakuan yang tak senonoh dari teman kampusnya. “Saya pernah di-sodomi Mas. Mungkin saat itu saya lagi mabuk. Tapi entah kenapa rasanya itu aneh dan membuat saya selalu terpikir untuk menerima hal seperti itu lagi,” ucapnya.

Seiring berjalannya waktu, Leo akhirnya menerima keadaannya seperti sekarang. Hidup sebagai seorang gay. Dia pun berterus terang kepada teman-teman di kampusnya. Sulit memang untuk membeberkan kejujuran menjadi seorang gay. Karena risikonya harus dimusuhi dan dijahui. Tetapi itu adalah jalan yang harus dipilih Leo. Mau tak mau dia harus jujur. "Saya bilang, kalau memang kalian merasa tidak nyaman dengan keadaan saya, silakan menjauh tapi kalau kalian bakal menerima saya, saya sangat terima kasih," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Usai menc eritakan awal Leo terjerumus masuk ke dunia LGBT, Leo pun mengaku baru mulai menggunakan aplikasi Hornet untuk mencari kepuasan dengan sesama gay, baru tiga minggu terakhir. Yang akhirnya mempertemukan dia dengan tim. Selain itu, menurutnya dengan menggunakan aplikasi ini, juga privasinya bisa tertutupi dan tidak diketahui publik.

“Dari Hornet kurang lebih sudah tiga orang yang saya temui. Di antara itu, kami juga pernah tidur bersama. Setelah itu pergi masing-masing. Semuanya tergantung orangnya sih,” bebernya. Kisah Leo ini merupakan salah satu kisah dari pelaku LGBT di Tarakan. Dia mengaku takut orang lain mengetahui identitasnya, karena takut terkena sanski sosial. (tim/nri)

loading...
BERITA TERKAIT
  • The Little Las Vegas
  • Bisa Disembuhkan, Asal Ada Kemauan
  • Lambang Tujuh Hari Kehidupan
  • Iraw Tengkayu Dilaksanakan Setiap Tahun
  • Kesempatan Kerja di Kota Ini Makin Sempit
  • Kebutuhan Dasar Turut ‘Mencekik’
  • Berebut Kursi Panas Sekkab
  • BKPSDM Bantah Isu Titipan Pejabat
  • Jelang Penutupan, Pendaftar Masih Kosong
  • Hin dari Pungli, Ikuti Prosedur

BACA JUGA

Senin, 08 Januari 2018 15:24

Sobat Menang, Semoga Lancar

TARAKAN - Sore ini, pasangan calon (Paslon) Wali Ko ta dan Wakil Wali Kota Tarakan H Sofian Raga-Sabar… Senin, 08 Januari 2018 15:16

Harus Bawa surat B1 hingga B3KWK Parpol

TARAKAN - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Tarakan, hari ini Senin (8/1) secara resmi membuka pendaftaran… Senin, 08 Januari 2018 15:15

Diduga Bawa Lari Uang Member Rp 700 Juta

TARAKAN â€" Aksi penipuan dengan kedok investasi menguntungkan kembali menelan korban. Kali ini… Senin, 08 Januari 2018 12:04

Butuh Jembatan Penghubung

TARAKAN â€" Ketua RT 13, Kelurahan Karang Harapan, Syamsuddin mengatakan, berada di daerah pesisir… Senin, 08 Januari 2018 12:02

Tak Perlu Khawatir, Stok Beras Aman

TARAKAN â€" Saat pe rayaan Hari Raya Natal dan Tahun Baru, kebutuhan masyarakat akan bahan pangan… Senin, 08 Januari 2018 12:01

PGN Fokus Pemasangan 5 Ribu Sambungan

TARAKAN - Memasuki 2018 ini, PGN Tarakan akan berfokus pada pemasangan baru sebanyak 5.000 pelanggan.… Senin, 08 Januari 2018 10:54

Demokrat Sebut Bagian Dinamika

TARAKAN â€" Menjelang hari pertama pendaftaran yang dibuka pada Senin 8 hingga 10 Januari, persoalan… Senin, 08 Januari 2018 10:51

Bengawan Sudah Dialiri Listrik

TARAKAN - Satu tahun beralihnya pengelolaan listrik Tarakan dari swasta ke unit layanan khusus (ULK).… Senin, 08 Januari 2018 10:48

Lewati Jalan Setapak Menuju Air Terjun Sulok

Menghabiskan waktu luang di akhir pekan di awal tahun ini, sangat cocok bila Anda melakukan wisata alam.… Senin, 08 Januari 2018 10:46

Siswa Sebatik Disinyalir Berkewarganegaraan Ganda

NUNUKAN â€" Kembali beredar isu kepemilikan identitas ganda yang dimiliki warga Indonesia. Kali… Hanya Satu Armada Miliki Pintu Darurat Berkomitmen Sebagai Kabupaten Konservasi 31 Januari, Serah Kunci Studio XXI Hari Ketiga Pencarian, Fikri Akhirnya Ditemukan Tegaskan Dana RT Rp 260 Juta Tidak Bayar, Dilarang Masuk 2018, Target Memampukan Aparatur Desa Niat Berangkat Kerja, Dwi ‘Diseruduk’ Angkot Sempat Disorot, Pengadaan Seragam Jalan Terus Di Malinau Hanya Ada Tujuh Polsek
  • Sobat Menang, Semoga Lancar
  • The Little Las Vegas
  • Korban ‘Digituin’ Berakhir Kencanduan
  • Bisa Disembuhkan, Asal Ada Kemauan
  • Harus Bawa surat B1 hingga B3KWK Parpol
  • Diduga Bawa Lari Uang Member Rp 700 Juta
  • Turunkan Angka Lakalantas
  • Pegawai Mandiri Inhealth Sudah Dijaminkan Oleh JKN Juga Loh!
  • Kodim Ajak Masyarakat Proaktif
  • Butuh Jembatan Penghubung
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
  • KALIMANTAN TIMUR
  • KALIMANTAN TENGAH
  • KALIMANTAN SELATAN
  • KALIMANTAN UTARA
  • KALIMANTAN BARAT
  • TENTANG KAMI
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
Find Us
Copyright &copy 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .Sumber: Google News | Liputan 24 Malinau

No comments